Bursa kripto FTX telah mengajukan perlindungan kebangkrutan kepada pengadilan AS. Langkah tersebut diambil karena mereka memiliki utang kepada 50 kreditur tanpa jaminan dengan total hampir US$3,1 miliar atau setara Rp48,48 triliun. Pengadilan Kepailitan AS yang menangani dokumen kebangkrutan FTX mengungkapkan utang kepada pelanggan FTX masing-masing bernilai lebih dari US$200 juta. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?
Awal mula kasus dimulai pada tanggal 2 November 2022 yaitu, ketika balance sheet Alameda Research bocor ke publik. Isu muncul ketika ditemukan hampir 40 persen aset Alameda merupakan FTT atau mata uang rilisan FTX pada balance sheet-nya. Hal yang perlu diketahui adalah, Alameda Research merupakan bagian dari FTX yang di bangun oleh owner yang sama yaitu, Sam Bankman-Fried atau biasa dikenal SBF. SBF mengatur fungsi bisnis yang berbeda di antara dua perusahaan tersebut di mana, FTX sebagai exchanger sedangkan Alameda sebagai trading firm. Cory Klippsten, CEO dari bitcoin swan, menyatakan “Sangat menarik ketika sebagian besar ekuitas bersih bisnis Alameda sebenarnya adalah token FTX yang dikendalikan secara terpusat dan dicetak”. Sebenarnya, apa maksud dari statement Cory Klippsten tersebut?
Dasar permasalahannya, Alameda Research diduga melakukan skema ponzi. Hal tersebut didasari atas token FTT yang terlalu banyak dimiliki oleh Alameda Research. Secara spesifik, skema ponzi yang digunakan oleh Alameda Research adalah flywheel scheme. Sederhananya, alur flywheel scheme yang dilakukan FTX yaitu, FTX mencetak FTT lalu meminjamkan FTT pada Alameda, berlanjut Alameda mengajukan pinjaman dalam bentuk USD secara cash dengan jaminan FTT, hingga di titik akhir Alameda mengirimkan dana USD hasil pinjaman tersebut pada FTX. Intinya, kondisi tersebut membentuk skema seperti “mencetak uang”. Belum lagi, token yang dipinjamkan FTX pada Alameda Research ternyata merupakan aset pelanggan yang digunakan tanpa persetujuan.
Dampak dari kondisi tersebut, salah satu investor kripto besar, Binance melakukan likuidasi atau menjual token FTT yang mereka miliki secara bertahap. Bahkan, mayoritas investor individual yang memiliki aset FTT melakukan tindakan yang sama. Hal tersebut menyebabkan FTX dengan cepat kehilangan kemampuannya untuk memenuhi penarikan tersebut dan menghentikan perdagangan. Dari kasus tersebut, sebenarnya terdapat basic accounting yang dapat di highlight yaitu, likuidasi yang berujung pada financial shenanigans.
Flywheel scheme atau skema ponzi yang dilakukan oleh FTX dan Alameda dimaksudkan agar tetap sustain memperlihatkan tingkat likuiditas yang baik dengan menggunakan dana investor. Hal yang perlu kita ketahui, skema tersebut masuk ke dalam bentuk financial shenanigans. Ironis bukan? Bahkan, dari kasus tersebut terdapat hal menarik lain yang terungkap. Berdasarkan artikel yang ditulis oleh George Clover dalam Markets Insider, beberapa hal terungkap setelah FTX mengajukan bangkrut pada pengadilan yaitu:
- FTX dan Alameda Research tidak memiliki accounting department.
- FTX Group sedang berusaha untuk menyusun laporan keuangan yang akurat.
- FTX diaudit oleh firma yang mengklaim sebagai akuntan bersertifikat pertama yang membuka kantor di metaverse.
Dari kondisi tersebut, dasar permasalahan yang dialami FTX adalah karena kurangnya controlling akan manajemen keuangan. Terungkapnya tiga hal tersebut menjadi bentuk indikasi bahwa FTX dan Alameda terlalu fokus pada sistem bisnis kripto, namun menyampingkan basic accounting dalam financial management. Selain dari itu, berdasarkan kondisi permasalahan tersebut timbul indikasi terjadinya agency problem. Agency problem sendiri merupakan konflik yang dijelaskan dalam agency theory yang kerap digunakan untuk menjelaskan kondisi permasalahan dalam akuntansi manajemen.
Dasar permasalahan dari kasus FTX dan Alameda adalah rendahnya implementasi akuntansi pada manajemen keuangan perusahaan. Jika dirinci, akar dari permasalahan yang timbul tidak hanya dari poin-poin yang telah kita bahas. Masih terdapat hal lain seperti misappropriation assets, lack of cashflow management, dan lainnya. Kalau begitu, hal menarik apalagi yang terdapat dari kasus FTX dan Alameda ini?